Hmmm...Udah lama ga update Jurnal, terlalu sibuk nge-blog dan FB. Nothing interesting lately, terakhir insiden Oom2 tua jelek yang bergaya bahasa anak kecil cewe so imyut yang sempet bikin ilfil sama dunia komik ini sudah berlalu.
Sebenernya jurnal ini ga penting2 amat, tapi berhubung kemarin ada orang menyebalkan, ya udah deh, itung2 update jurnal.
Sebagai Penikmat dunia komik baik secara aktif dan pasif, saya menyukai semua jenis komik, Jepang, US, Erops, Barat atau Timur, digital maupun manual, dan semua genre. Saya berharap semua dapat menikmati karya seni yang satu ini dengan bebas dan tanpa prasangka berlebihan, walaupun pada prakteknya setiap orang memiliki selera masing-masing tapi buat saya oke-oke saja, toh negara bebas, mau bilang;
"Manga is the best! Komik Amrik jelek!...:
Atau sebaliknya;
"Komik Amrik is the best, Manga sucks!..."
Silakan saja, ini negara bebas, tapi simpan saja sendiri, kalau sudah memaksakan opini serta selera pribadi sama orang lain, itu sudah keterlaluan, menurut saya.
Dan kemarin, ada saja perilaku manusia-manusia 'unik' dunia komik ini. Ada yang merendahkan digital artists kalau menurut saya sendiri, dengan keukeuh memaksakan seorang digital artist untuk bekerja secara manual. Seolah-olah digital artists lebih kurang taraf artistiknya, karena menggunakan media komputer, jadi mengejar kepraktisan dan meninggalkan rasa seninya.
"Ayo dong, masa ga mau berusaha dulu?" - kata dia
'Ga mau berusaha?' maksudnya apa itu? Kamu pikir digital artist itu PEMALAS!?
Dulu saya pernah berdebat soal ini, manual or digital hanya media, seperti perpanjangan tangan saja, di bidang apapun. Kalau orangnya emang berbakat pasti bagus kok, begitu juga sebaliknya, kalau emang ga punya bakat, mau pakai software terbaru ataupun Wacom whatever the hell version, kalau jelek ya jelek. Apakah menjadi digital artist lebih praktis? Jujur saya jawab, buat saya; ya. Apakah menjadi lebih mudah? Saya bilang relatif. Apakah menjamin kualitas? JELAS TIDAK.
Menurut saya, mau media apapun, asal karyanya terbukti bagus tidak masalah, toh yang penting adalah 'end result'. Toh sudah terbukti kok, hasil karya sang Digital Artist memang bagus, dan dia sendiri mengakui tapi terus maksa dengan beribu alasan.
Seperti menyuruh Picasso melukis dengan cat air, heran. Tapi di kala seperti ini, jadi teringat kutipan rekan ilustrator di kantor saya;
"Kebodohan itu tidak dapat dimengerti, hanya dapat dijauhi."
PS. Apa saya bilang, my friend? Saya mungkin jutek, keras dan saklek, tapi saya hanya menyemprot orang yang pantas disemprot. Alias Gw cuma jutek ama orang jutek.
This just in; Dia mau ngajarin Bayou cara menggambar...Right, hampir lucu. Lo terlalu PD dan kecepetan 10,000 tahun buat ngajarin Bayou. Kalau gambar lo bagus, lo dah jadi mangaka pro kali, bukannya editor-I'm better than you-I can teach you-ga jelas.
-
Mood:
Joy -
Listening to: Britney's Circuss
-
Reading: Indonesian Heritage series, Komik Serial Misteri
-
Watching: CSI, CSI:NY, CSI:MIAMI, Trueblood
-
Playing: Monopoly SpongeBob
-
Eating: Ramen, timbel komplit, chocolate
-
Drinking: Aer Putih! it's da best!
jadi kayak panggung politik ja,,
gaya gambar itu universal,,
style tu hak masing2 orang,,
kritik itu hak,,
tapi etika itu mutlak..
gegege..
..bagian ini, SETUJU.
soalnya jarang ada pembaca komik (biasa) yang ngulik sampai ke detail cara/alat apa yg dipake komikusnya.. (ini berdasarkan pengalaman merhatiin sepupu Oni -usia SMP-
yah..jujur sih dulu gw nganggep kl komik jepang>komik amrik....duluuu.
tp sejak baca Kingdom Come karya Alex Ross...pendapat gw lgsg berubah,dan sejak itu gw ngerasa tuh komik Jepang dan Amrik tuh cm beda genre aj,ngga ad yg lebih/bagus/jelek, masing2 punya kelebihan dan kekurangan...
terus kl soal manual sendiri sih gw setuju sm lo,masing2(mo digital/manual) punya kesulitannya masing2..
cm dari pengalaman saya,org yg ud "jago" manual biasanya punya dasar yg lbh bagus ke digital...jd menurut sy pribadi yg namanya org emang harus cb manual dulu..baru digital...he he itu pendapat gw.^^
Gw setuju dengan pendapat apapun media yang dipilih, bagus ngga hasilnya mah yang menentukan tangan orang yang bikin
Apalagi kalo komik... emang pembaca peduli gitu sama apakah komiknya dibikin manual atau digital. Gw rasa ngga. Malah ada koq pembaca yang bener2 awam tentang gambar dan belom bisa bedain itu komik dibuat pake media apa. Yang penting mah gambarnya bagus, ceritanya menarik, alurnya enakeun. Gw sih belom pernah nemu pembaca yang ga mau beli komik hanya gara2 komiknya dibuat digital. Jadi kenapa harus riweuh dan keukeuh.... Harusnya kan editor itu orang yang paling ngerti pemikiran pembacanya seperti apa.
ini [link] ke tempat diskusi awal bayou & orang itu...
Jul, kasih link ini ke mereka2 yang ngga tau pokok persoalannya. biar lu-nya juga ngga perlu cape2 marah mulu... inget tekanan darah! (lah, kok jadi nasehatin gini *kabur sebelom dilempar sendal*)
yang bener [link] yang ini!
punten ya, Jul...*kabur beneran*
Gpp lah
remember;
Kebodohan itu tidak dapat dimengerti...
emang sih kalo digital media bisa dibilang lebih praktis dibanding tradi. tapi kalo yang pake digital media tidak bisa memanfaatkan kepraktisan tersebut, ya sama aja tho